Tampilkan postingan dengan label Artikel Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Rohani. Tampilkan semua postingan

Natal di Antara Kehancuran dan Pengharapan

Memahami makna Natal bukan hal sederhana. Tetapi fenomena Natal, itulah yang hidup sekarang. Apa beda makna dengan fenomena? Istilah makna adalah memahami kedalaman daripada Natal, memahami pesan yang ingin Tuhan sampaikan. Sementara fenomena adalah sebuah gejala yang ditangkap oleh indra manusia lalu dijadikan semacam satu ukuran.

Fenomena menyebabkan seluruh atribut Natal mewarnai dan menguasai, bahkan menenggelamkan makna Natal, sehingga boleh dikatakan, gereja kehilangan arah itu. Gereja mengidentikkan Natal dengan damai, artinya tidak ada perang, tidak ada kesulitan, tidak ada pertikaian. Gereja mengidentikkan Natal dengan sukacita, artinya bahwa apa yang kita mau, ada. Gereja mengidentikkan Natal dengan kebahagiaan,artinya seluruhnya menjadi lain dari
hari yang lain.Semua kesalahpahaman ini sudah berlanjut, sehingga Natal lebih banyak menjadi penantian para bisnismen, industri-industri, daripada penantian akan Tuhan. Gereja pun terjerumus ke dalam perkara yang lebih menakutkan lagi. Natal identik dengan semacam showbiz.

Sekarang Natal dipergelarkan dalam bentuk wah. Itu tidak salah, yang menjadi salah jika hal itu diwujudkan dengan biaya yang luar biasa. Pada saat bersamaan, berapa banyak orang menanti maut karena kelaparan? Berapa banyak orang meratap dan merintih? Damai hanya ada di dalam gedung gereja. Pengharapan hanya ada di dalam khotbah, bukan dalam kenyataan. Bukankah itu suatu kegentingan di mana orang Kristen perlu merenung ulang, apa itu Natal?

Coba kita renungkan. Apakah kita harus kasihan kepada orang-orang yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita karena mengalami banyak kendala? Mungkin perayaan Natal kita akan membawa kita ke neraka, tetapi mungkin Natal yang dirayakan dalam keprihatinan akan membawa mereka ke sorga. Natal yang serba kecukupan dan luar biasa mungkin membuat kita lupa sungguh-sungguh berdoa. Tetapi Natal penuh tangisan dan airmata, doa yang dinaikkan bisa menjadi gegap gempita di dalam sorga.

Bagaimana dengan Natal pertama? Natal yang sangat simbolik dengan kehancuran, Di sana muncul tokoh bernama Herodes. Dia memerintahkan sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan dan tidak pernah terbayangkan, dan menjadi satu noda yang menyakitkan bagi Betlehem: membunuh anak-anak di bawah usia dua tahun!

Kehancuran di Natal pertama itu apa? Yang pertama adalah banjir darah, kematian anak-anak di bawah usia 2 tahun. Mereka harus mengalami pembunuhan, mati demi ambisi Herodes yang tidak ingin ada saingan. Menakutkan dan mengerikan. Natal pertama harus dibayar dengan darah.

Bagaimana jika sekarang ada bom? Marilah berdoa, kalaupun bom itu meledak semoga kita masuk sorga. Kenapa mesti pusing? Kita toh tidak bisa melarang, kita tidak bisa marah. Orang mau marah silakan, itu urusan mereka. Tetapi bagaimana menyatakan cinta kasih, itu tanggung jawab kita. Itu sebab bagi saya tidak terlalu masalah ketika menyikapi apa yang sedang terjadi. Bagi saya, tidak terlalu penting apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi bagaimana kita berjalan dan bekerja melakukan apa yang Tuhan mau.

Air mata suka cita
Yang kedua, banjir air mata. Di sana ada hawa nafsu. Darah tumpah di mana-mana, maka air mata mengalir pula di mana-mana. Bahwa Natal suka cita itu betul, tetapi sukacita yang belum “titik”, tapi “koma”. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita waktu Natal, tanpa mengeluarkan air mata. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita waktu Natal tanpa menangis. Kenapa? Karena begitu Anda suka cita merenungkan kasih Tuhan, bisakah Anda merenungkan dan merasakan itu tanpa menangis? Tidak mungkin engkau tidak akan menangis di dalam suka cita, “Tuhan, kenapa Kau pilih aku? Kenapa Kau cintai aku?” Maka keluarlah air mata penuh suka cita. Kalau suka cita lalu mabok, itu orang sekarang.

Orang-orang Barat sangat sentimen romantis waktu memanfaatkan Natal. Bagi mereka, itu malam yang sangat indah. Tetapi karena sudah bercampur dengan budaya maka mabuk karena minuman keras menjadi hal yang biasa. Jika itu terjadi di malam Natal tentu sangat menyedihkan. Di Barat, orang sudah biasa mengekspresikan suka cita di dalam emosi yang sering kali salah.

Natal, adalah saat kita diam dan bertanya, “Tuhan, sebenarnya waktu saya mau percaya sama Tuhan, cari kesenangan buat saya, atau saya mau menyenangkan Tuhan? Jika memang mau menyenangkan Tuhan, susah pun kau bahagia.

Ketiga, banjir amarah. Karena Herodes sudah gelap mata tidak tahu lagi kawan atau lawan. Karena gelap mata, dia tidak berhitung lagi. Baginya, yang penting tidak boleh ada orang lain menjadi raja, sekalipun dia tidak mengerti apa yang dimaksud orang Majus sebagai “Raja Orang Yahudi”.

Maka Natal pertama memang porak poranda, hancur berantakan, tetapi justru di situlah paradosks daripada Natal itu. Justru di kehancuran itulah damai bersemi. Justru di kehancuran itulah damai dinyatakan bagi orang yang diperkenannya. Anugerah Natal bukan murahan. Tidak semua orang bisa berbahagia karena Natal kecuali yang diperkenan Tuhan. Anda berhak atas kebahagiaan Natal jika hidup berkenan dan diperkenan Tuhan. Kebahagiaan itu menjadi milik orang yang kuat, sehingga Natal membuat dia teguh di tengah kepahitan. Natal membuat dia teguh di tengah ancaman.

Kehancuran memang ada dan tidak terhindarkan. Jangan pernah mimpi akan ada saat di mana tidak ada kehancuran. Itu nanti di sorga. Jangan pernah mimpi akan ada saat tidak ada kesusahan, lalu kita menjadi orang Kristen yang begitu mulus. Kitab Wahyu mengatakan: “Makin lama manusia makin jahat, makin lama manusia makin memberontak”. Itu gambarannya. Tetapi berbahagialah mereka yang teguh berharap kepada Dia, karena di antara puing-puing kehancuran itu muncul pengharapan yang luar biasa dari Yesus, simbol pengharapan.

Merayakan Natal

Pekan ini, tanggal 25 dan 26 Desember, umat Kristiani merayakan Natal. Natal yang merupakan peringatan kelahiran Kristus Jesus sekitar 2000 tahun yang lalu itu menjadi sebuah perayaan besar bagi umat Kristen.
Dimana-mana Natal dirayakan, selalu ada kesan meriah dan penuh kegembiraan di sana. Warna yang dominan adalah hijau, merah dan kuning, menyiratkan adanya sukacita yang dibawa di Rata Penuhdalam merayakan Natal. Semarak Natal menghiasi seluruh kota, terutama di Eropa yang memang membangun negaranya dengan tradiri Kristiani sejak lama. Di sana, bukan hanya rumah yang dihiasi, tetapi kota ditaburi dengan lampu dan ornamen Natal. Setiap kali Natal datang, yang kita saksikan adalah sebuah kolaborasi antara budaya, seni dan ibadah pada saat yang sama.
Perayaan Natal di negeri ini juga tidak luput dari kesan sukacita dan kegembiraan. Ibadah-ibadah di gereja adalah ibadah yang membawa makna Natal kepada umatNya. Demikian juga dengan perayaan Natal di rumah-rumah, sudah sejak lama dipersiapkan. Semuanya tidak ingin melewatkan kesempatan penting dan istimewa ini. Ada kesan penting dan utama ketika perayaan Natal disambut di seluruh negeri.
Tetapi apakah Natal yang dirayakan seperti sekarang ini, seperti itukah dulu ketika Kristus pertama sekali hadir? Jawabnya tidak. Ketika Kristus lahir di Betlehem, pada waktu itu bangsa Yahudi sedang menantikan seorang yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi kala itu. Mereka menantikan seorang pejuang dengan kekuatan besar—bahkan mungkin seperti para nabi di Perjanjian Lama—yang bisa dalam waktu singkat membangkitkan perjuangan bersama mereka.
Sayangnya yang mereka lihat dan dengar adalah sosok bayi yang mungil, manusia biasa, yang kemudian tumbuh dan berkembang di dalam keluarga seorang tukang kayu. Ini adalah fakta yang kemudian menyebabkan Kristus menjadi sebuah kontroversi. Apalagi pelayanannya di kemudian hari banyak melibatkan mereka yang terlupa, tertinggal, bahkan termarjinalkan di dalam kehidupan kala itu.
Karena itulah kelahiran Kristus yang dulu sama sekali tidak disambut oleh parade manusia, tetapi sebaliknya oleh parade dan barisan malaikat yang berdiri menyajikan pujian kepada Tuhan yang berkenan hadir ke dalam dunia ini. Ini adalah sebuah perayaan sorgawi yang merayakan bagaimana surga bersukacita atas berkat yang tidak terhingga kepada umat manusia, meski pada saat yang sama, manusia di jaman itu tidak mengenal apa yang terjadi, bahkan menolak apa yang sesungguhnya merupakan berkat Tuhan kepada mereka.
Pada konteks inilah kita ingin memahami Natal. Kita berharap bahwa semangat perayaan Natal ini justru kita pahami sebagai sebuah perenungan terhadap diri yang sering tidak memahami rencana Tuhan, termasuk berkatNya yang sesungguhnya melimpah dalam kehidupan.
Perayaan Natal jangan sampai menjadikan umatNya bagaikan umat Yahudi di jaman dulu, yang tidak tahu bahwa Juru Selamat sudah hadir di depan mata mereka. mereka menunggu dan menanti bahkan merayakan yang lain, bukannya menjadikan apa yang terjadi sebagai sebuah titik balik kehidupan untuk merangkul, menggapai dan melibatkan mereka yang selama ini tercecer dari pelayanan keimanan mereka sendiri.
Natal memang mengubah semua. Mengubah cara pandang umatNya terhadap Dia yang datang, mengubah semangat pelayanan sehingga lebih membumi dan melebar, serta mengubah semarak yang hanya sekedar simbol, menjadi perayaan yang sesungguhnya.

Ego dalam perdebatan Islam-Kristen

Membaca beberapa diskusi Islam-Kristen di Internet, rasanya sedih melihat realitas keberagamaan yang berkembang. Menyedihkan melihat isinya hanya perdebatan dan masing-masing mengunggulkan agamanya dengan merendahkan agama orang lain. Keadilan dan ketulusan seringkali hilang, tergantikan keinginan untuk mengalahkan argumentasi lawan diskusi.

Buat apa semua itu? Mau meyakinkan orang yang berbeda agama? Pasti tak manjur karena setiap orang tetap berada dalam keyakinannya masing-masing. Rasanya yang didapat cuma kepuasan pribadi dan semakin membangun ego saja. Bangga kalau bisa mengalahkan argumen orang lain, ngeles dan menyerang balik kalau sedang salah membuat pembelaan.

Menurutku, model diskusi perdebatan iman tak ada gunanya sama sekali, bahkan sangat buruk untuk spiritualitas orang yang terlibat. Bagaimana dengan nasib ajaran Tuhan (Islam atau Kristen) yang sedang dibela itu? Menurutku lebih tragis lagi; perdebatan itu menciptakan apriori bagi masyarakat terhadap Tuhan dan ajaran-Nya.

Iman adalah sebuah pertanggungjawaban pribadi kepada Tuhan. It’s personal. Dialog iman, dalam konteks hubungan antar-keyakinan wujudnya berupa sharing: bercerita dan bertanya; tanpa penghakiman dan pelecehan terhadap keyakinan lain. Perbedaan (jika ada) tetap dinyatakan dalam konteks keragaman dan cara pandang yang berbeda. It’s oke.

Membela Tuhan? Tidak perlu, Tuhan tidak perlu dibela. Tugas kita adalah memperbaiki spiritualitas kita terus menerus agar diri kita benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam. Kebenaran iman yang kita yakini secara natural akan diapresiasi orang lain kalau kita menjadi orang yang tulus, adil, penuh cinta dan pelayanan kepada masyarakat.

Apapun fitnah dan hujatan para penentang Tuhan, tak akan menodai kemuliaan Dia dan ajaran-Nya. Yang menodai ajaran-Nya adalah saat kita yang mengaku mengimani-Nya melakukan hal-hal buruk yang tak mencerminkan pengajaran-Nya.

Hermeneutika Gadamer

Beranilah berpikir sendiri. Inilah semboyan pencerahan yang legendaris. Semboyan ini menekankan peniadaan autoritas dalam usaha pencarian kebenaran karena autoritas sebagai sumber prasangka dianggap merusak rasionalitas. Prasangka, autoritas, tradisi dianggap membelokkan kebenaran sehingga pengetahuan didesak untuk dibebaskan dari segala hal tersebut. Pengetahuan harus bebas nilai. Dalam pendekatan ini tendensi objektivitas sangat kuat sementara subjektivitas dipinggirkan.
Hermeneutika Gadamer merupakan suatu kritik terhadap positivisme dengan menekankan pada subyek yang menafsirkan. Bila melihat pengertian etimologinya, hermeneutik berasal dari kata kerja Yunani hermeneuo yang artinya mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menerjemahkan atau menafsirkan. Kata kerja ini terkait dengan nama tokoh mitologi Yunani yaitu Hermes yang bertugas menafsirkan kehendak dewata. Pertanyaan yang menarik apakah hermeneutik merupakan sebuah metode untuk memperoleh kebenaran yang setepat-tepatnya tentang realitas/teks ?
Pertanyaan di atas bagi saya adalah pertanyaan awal yang menarik terkait dengan problematik positivistik yang menekankan objektivitas dan mengabaikan subjektivitas. Terlebih lagi bila kita hendak memahami realitas sosial. Apakah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dalam upaya memahami realitas sosial dapat dijawab dengan fakta-fakta objektif yang murni ? Bukankah realitas sosial begitu kompleks dan memahaminya lewat fakta-fakta murni hanya akan menyederhanakannya ? Oleh karena itulah saya tertarik untuk mengkaji lebih lanjut pendekatan hermeneutik dari Gadamer. Bagaimana prinsip hermeneutika Gadamer dan apa relevansinya bagi ilmu pengetahuan di Indonesia merupakan pertanyaan yang akan menjadi fokus dari tulisan ini.

Proyek pencerahan berusaha meniadakan prasangka dimana kita diminta untuk mengesampingkan asumsi dan bias pikiran kita lalu melihat pertanyaan dan text secara baru. Semua penafsiran yang benar harus dilindungi dari khayalan-khayalan arbitrer dan pembatasan-pembatasan yang ditekankan oleh kebiasaan-kebiasaan pemikiran yang tidak bisa dipahami dan mengarahkan pandangannya terhadap sesuatu itu sendiri. Namun apakah kita benar-benar dapat melepaskan diri dari subjektivitas ? Apakah kita dapat benar-benar bebas nilai ? Apakah kita benar-benar dapat berpikir secara baru tanpa titik tolak sama sekali ? Apakah kita dapat memberi makna pada realitas/teks tanpa dibentuk oleh kesadaran kita ? Bila demikian bukankah kita hanya akan menyalin fakta dari teks atau realitas tersebut ? Gadamer melihat hal itu mustahil untuk dilakukan oleh karena pikiran kita dibentuk oleh sejarah. Ia mengkritik pendapat seperti itu sebagai prasangka melawan prasangka. Dalam hal ini ia melihat model yang anti terhadap prasangka ini dimungkinkan oleh suatu prasangka (bahwa prasangka harus diatasi). Gadamer mengacu pada konsep wirkungsgeschichte (sejarah efektif) yaitu kenyataan bahwa pengetahuan memiliki efek dalam sejarah sebab seorang peneliti kritis adalah juga seorang aktor sejarah yang menjadi bagian dalam kesinambungan proses sejarah dalam tradisinya. Dalam hal inilah ia menyinggung tentang kesadaran sejarah. Mempunyai kesadaran sejarah adalah menjelajah dengan sikap tertentu kenaifan alam yang membuat kita menilai masa lalu dengan apa yang sering disebut skala prioritas tentang masa kini, dalam perspektif institusi kita dan dari keyakinan nilai-nilai dan kebenaran kita.
Dalam mempertanyakan bagaimana memberi makna, Gadamer berkonfrontasi dengan pendahulunya yaitu Scheleirmacher dan Dilthey. Ia mengkritisi pendapat Schleiermacher yang menyatakan bahwa keasingan suatu teks bagi pembaca perlu diatasi dengan mencoba mengerti si pengarang, merekonstruksi zaman si pengarang dan menampilkan kembali keadaan dimana pengarang berada pada saat menulis teksnya. Menurut Gadamer, tujuan dari membaca sebuah teks adalah untuk mempelajari mengenai subyek dalam teks. Ia memberi contoh bila ia membaca biografi tentang seseorang yang bernama James Joyce yang ditulis oleh Richard Ellmann, maka ia hendak mempelajari tentang James Joyce dan bukan tentang proses mental dari Richard Ellmann. Ia juga mengkritisi pendapat Dilthey yang melihat hermeneutik sebagai metode untuk mengerti teks secara benar dalam konteks sejarahnya. Dilthey berusaha merekonstruksi makna sebuah teks menurut maksud pengarang dalam konteksnya. Menurut Dilthey, hermeneutik adalah menyusun kembali kerangka yang dibuat oleh sejarawan agar peristiwa sebenarnya dari kejadian itu dapat diketahui. Gadamer melihat bagaimana upaya Dilthey sebenarnya sia-sia karena kita tetap tidak mungkin meniadakan prasangka dan berusaha merepoduksi makna sebagaimana yang dihayati oleh si pengarang.
Disini saya melihat bagaimana Dilthey berusaha untuk menemukan arti asli dari teks lalu menampilkan kembali makna yang dimaksudkan oleh si pengarang. Apa yang dilakukannya adalah sebatas reproduksi makna. Dalam hal ini Dilthey masih terpengaruh dengan objektivisme zaman pencerahan yang berusaha meniadakan prasangka dengan hanya berfokus pada makna seutuhnya dari si pengarang. Bila makna suatu teks hanya terbatas pada makna di zaman pengarang teks, maka pertanyaan yang perlu diajukan lebih lanjut menurut saya adalah bagaimana dengan teks yang dihasilkan oleh si penafsir atau sejarawan tersebut tentang hasil penafsirannya ? Bila teks tersebut hanya merupakan pemaparan makna seutuhnya dari pengarang menurut zamannya, bagaimana kita menafsirkan atau memahami teks dari si penafsir atau sejarawan ? Bukankah tafsiran itu ia hasilkan dalam konteks zamannya yang memiliki kekhasannya sendiri ? Bila penafsiran hanya mereproduksi makna si pengarang dalam zamannya, menurut saya itu berarti teks menutup diri atau mungkin penafsiran yang kita lakukan telah membatasi teks itu berbicara bagi kita di konteks masa kini. Dalam hal ini menurut saya, suatu teks sebenarnya tidak hanya terbatas pada zamannya, tapi juga terbuka berbicara bagi masa kini. Namun menurut saya apa yang diungkapkan Dilthey mengenai historisitas suatu teks juga baik untuk diperhatikan. Teks berasal dari konteks tertentu dan oleh karena itu baik juga kita mengerti konteksnya. Hanya saja teks tidak akan berarti apa-apa tanpa dikomunikasikan dengan konteks masa kini.
Berkaitan dengan hal itu, penting bagi kita untuk mengerti apa yang ditekankan Gadamer mengenai horizon. Ia menekankan bahwa seseorang memahami menurut horizon sejarah tertentu. Horizon yang dimaksudkan Gadamer adalah bentangan visi yang meliputi segala sesuatu yang bisa dilihat dari sebuah titik tolak khusus. Kita selalu berada pada titik tertentu dan dimana kita berada selalu mempengaruhi apa yang kita lihat. Dengan demikian yang perlu dilakukan adalah memperluas horizon kita seluas-luasnya serta terbuka terhadap horizon baru.
Menurut saya pendapat Gadamer tentang memperluas cakrawala pemahaman sangat penting. Proses memperluas cakrawala pemahaman dalam lingkaran hermeneutis ini tidak pernah berhenti untuk menghasilkan sebuah kebenaran objektif. Proses ini akan terus berlanjut, mengembangkan dan memperluas horizon, wawasan kita. Ketika kita berhadapan dengan orang lain cakrawala wawasan kita akan diperluas melalui interaksi dan dialog. Dengan demikian kita tidak hanya melihat atau memahami sesuatu berdasarkan satu perspektif saja yaitu perspektif kita sendiri namun kita mencoba terbuka untuk mengembangkan wawasan kita melalui dialog. Kita berdialog dengan orang lain bukan untuk memperoleh kebenaran setepat-tepatnya tetapi untuk memahaminya. Dalam upaya memaknai tradisi masa lalu, kita akan memahami dengan wawasan kekinian. Di sini jarak dengan masa lalu tidak diatasi dengan hanya mengkonstruksi kembali makna di masa lalu tetapi memahaminya dengan horizon kekinian. Dalam dialog tersebut terjadi perbenturan antara cakrawala pemikiran kita dengan orang lain. Dalam dialog ini tentunya kita juga membawa prasangka kita, namun kadangkala prasangka-prasangka kita harus disimpan untuk mencoba melihat pandangan orang lain. Pandangan orang lain ini dilihat bukan untuk dinilai sebagai hal yang buruk namun agar kita dapat memahaminya. Bagaimana dengan prasangka dan tradisi kita ? Bisa saja prasangka dan tradisi kita menjadi dominan dan kita anggap sebagai kebenaran. Dalam hal inilah kita perlu tetap untuk bersikap kritis terhadap prasangka dan tradisi. Kita perlu melihat apakah prasangka kita mengarahkan kita untuk dapat mengerti ataukah prasangka itu menyembunyikan kita dari pengertian ?
Di sini menurut saya kita juga perlu mengingat bahwa prasangka kita kadangkala tidak benar. Untuk itu yang terpenting adalah kita perlu terus memperluas horizon kita melalui dialog. Mengapa ? Hal ini berkaitan dengan konteks hidup kita yang dinamis dan kompleks. Pikiran kita dibentuk oleh konteks, tradisi yang selalu berkembang dan sedemikian kompleksnya sehingga makna yang kita berikan adalah sesuatu yang berkembang. Apa yang kita alami dalam hidup kita, apa yang kita lakukan dalam hidup tentunya akan mempengaruhi makna yang kita berikan terhadap sesuatu. Makna yang kita berikan bukanlah kebenaran yang setepat-tepatnya tetapi makna sesuai pengalaman, pembentukkan kita.

Teks yang dibaca adalah teks yang sama namun penafsiran yang dihasilkan dari teks tersebut begitu beragam. Apakah dari keragaman penafsiran itu kita harus menentukan dan mengambil satu makna yang benar objektif ? Apakah penafsiran yang benar adalah penafsiran yang menggunakan pendekatan yang ilmiah dan objektif ? Menurut saya tidak demikian. Keragaman penafsiran itu, menurut saya, memperlihatkan bagaimana konteks budaya dan pengalaman mempengaruhi penafsiran serta pemikiran kami. Keragaman pengalaman dan konteks budaya yang kemudian menghasilkan perbedaan penafsiran tidak seharusnya diatasi hanya dengan sebuah pendekatan yang objektif untuk memperoleh makna yang setepat-tepatnya. Pikiran kami dan mereka dibentuk dengan konteks dan pengalaman yang berbeda. Dalam hal ini saya setuju dengan pendapat Gadamer.
Hal yang menarik menurut saya adalah bagaimana pengetahuan kita dibentuk oleh konteks, dengan demikian sebenarnya konteks sangatlah penting untuk memahami makna. Apakah kemudian makna adalah sesuatu yang terus berubah-rubah ? dalam hal ini berubah atau tidak berubahnya makna terkait dengan konteks. Oleh karena itulah kita akan terus menerus dalam proses pemikiran yang tidak mengenal titik akhir . Menurut Gadamer kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka kita. Ketika kita hendak memberi makna pada sesuatu, apa yang kita pikirkan tentu terkait dengan pengalaman, tradisi dan konteks hidup kita. Dengan demikian pikiran kita sebenarnya tidak bebas nilai. Di samping uraian di atas, saya pikir kita juga perlu kritis untuk melihat bahwa Gadamer kurang menekankan bagaimana sebenarnya prasangka dan tradisi tersebut seharusnya tidak melampaui teks atau realitas yang berusaha dipahami. Kedua-duanya (prasangka/tradisi - teks/realitas) perlu diletakkan dalam posisi yang sejajar dalam proses dialog .

Menurut saya hermeneutik Gadamer cukup relevan bagi ilmu pengetahuan dalam konteks Indonesia. Dalam hal ini saya pikir sangatlah penting bagi kita untuk belajar dari Gadamer tentang bagaimana memperluas horizon, wawasan pemikiran kita lewat dialog. Terkait dengan teologi Kristen, saya melihat bahwa teologi Kristen sebenarnya tidak berangkat dari satu titik saja yaitu Alkitab tetapi teologi kristen perlu berdialog dengan kenyataan yang ada dalam konteks di Indonesia. Perlu disadari bagaimana teologi seharusnya berakar juga dalam konteks Indonesia. Teologi perlu keluar dari benteng-benteng gereja dan berusaha memahami dengan baik kenyataan sosial di masyarakat. Bila teologi hanya terkukung dalam tembok-tembok gereja maka teologi yang mengasingkan diri seperti ini tidak menjadi kabar baik/kesaksian dalam konteksnya. Teologi seperti itu cenderung menjadi teologi yang tidak membumi. Dalam hal ini, bukan jawaban dogmatis yang diharapkan dari teologi seolah-olah teologi mengetahui semua jawaban secara tepat dan menjawab dengan pendekatan top-down dalam rangka memberi atau melakukan. Namun yang perlu dilakukan adalah berdialog dengan masyarakat, peka mendengar jeritan pergumulan mereka dan berusaha memahami pergumulan mereka, lalu merencanakan dan mengerjakan bersama masyarakat. Dengan demikian teologi dibentuk oleh konteks nyata dan bukan terpisah dari kenyataan hidup masyarakat. Ini berarti teologi Kristen perlu berdialog dengan agama-agama lain, teologi perlu berdialog dengan tradisi kepercayaan dalam masyarakat, teologi perlu berdialog dengan tradisi dalam kepelbagaian budaya masyarakat Indonesia, teologi perlu berdialog dengan masyarakat yang saat ini berada dalam perubahan sosial yang serba cepat.
Dalam konteks pluralisme agama di masyarakat Indonesia, kita perlu berdialog dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama. Kita harus berani membongkar batasan-batasan yang memisahkan kita. Seringkali kita mengeluhkan status kristen yang minoritas dan dipinggirkan dalam masyarakat Indonesia. Menurut saya pemikiran seperti ini hanya akan mengasingkan kita dari sesama kita. Apakah perbedaan agama hanya dinilai secara sempit berdasarkan mayoritas dan minoritas ? Oleh karena terjebak dalam pemikiran minoritas, kita tidak berani keluar dari tembok-tembok gereja kita. Akhirnya kita hanya terkukung dalam batasan pemikiran kita saja. Batasan pemikiran yang sempit dan kita menilai segala sesuatu dari pemikiran kita yang sempit itu. Dalam hal ini, menurut saya di sinilah pentingnya kita belajar dari Gadamer tentang perlunya memperluas fusi-fusi horizon, wawasan pemikiran kita melalui dialog dengan orang lain. Apakah tujuan kita berdialog dengan sesama kita ? Apakah untuk melihat siapa yang benar atau salah ? Apakah untuk meyakinkan bahwa kita benar dan kemudian menepuk dada ? Apakah untuk meyakinkan orang lain bahwa kebenaran ada pada kita agar orang lain mengikuti kita atau dalam arti menginjili orang lain ? Dialog kita bertujuan agar kita dapat memahami sesama kita. Dalam hal ini kita perlu rendah hati mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas dan oleh karena itu kita perlu berdialog, terbuka pada mereka agar kita memperluas wawasan pikiran kita. Bagaimana dengan kebenaran yang kita yakini ? apakah agar kita dapat berdialog dengan baik kita perlu menyimpan keyakinan kita dan memilih untuk bersikap low profile : kita semua sama, kita semua inklusif, semua agama sama saja benarnya….menekankan persamaan dan menomorduakan perbedaan ( seolah-olah identitas harus dipinggirkan, perbedaan disembunyikan). Menurut saya dalam dialog tidak berarti kita menyembunyikan perbedaan untuk mencari kesamaan universal. Kita bertemu dengan orang lain bukan tanpa pemahaman sama sekali. Dalam situasi seperti itu kita menyadari bahwa cara pandang kita bukanlah satu-satunya cara. Dengan melihat adanya sudut pandang lain atau pemahaman lain, maka kita akan melihat dengan jelas cara pandang atau pemahaman kita sendiri. Dialog yang kita perlukan adalah dialog untuk mengerti sesama kita dan saling belajar dari pandangan masing-masing. Dalam melihat pro dan kontra mengenai syariat Islam misalnya. Bila kita hanya berpikir dalam horizon tertentu saja dan enggan untuk keluar berdialog dengan sesama kita yang lebih memahami syariat Islam, maka mungkin kita akan tenggelam dalam ketakutan kita sendiri dan menilai dengan tegas syariat Islam itu negatif. Mungkin saja kita tidak setuju dengan padangan-pandangan yang menerapkan syariat Islam dalam Perda-perda. Namun bila kita menolak dan tidak setuju terhadap penerapan itu seharusnya kita berusaha untuk mengerti persoalan yang ada di balik penerapan syariat Islam tersebut. Bagaimana kita dapat sungguh-sungguh memahami persoalan tersebut ? Salah satu jalan yang ditawarkan oleh Gadamer adalah melalui dialog. Melalui dialog kita akan mencapai pemahaman. Apakah lantas ini berarti kita berhenti pada upaya memahami saja ? Menurut saya tidak demikian, kita perlu melawan tetapi melawan bukan dalam arti Kristen melawan syariat Islam tetapi kita melawan hal-hal yang menimbulkan ketidakadilan bagi siapapun dari penerapan syariat Islam dalam Perda tersebut. Namun sekali lagi tentunya dengan pemahaman yang baik yang kita peroleh lewat dialog.
Dari pendekatan Gadamer, kita diingatkan bagaimana dalam penafsiran konteks pembaca pun perlu mendapat perhatian. Menurut saya hal ini cukup penting mengingat universalitas dan objektivitas ilmu tafsir Alkitab yang kita kenal selama ini yang menekankan bahwa teks sudah mempunyai konteksnya sendiri. Oleh karena itu penafsiran hanya berangkat dari konteks masa lalu dan bila konteks masa lalu itu tidak jelas yang dilakukan kemudian adalah merekonstruksi kembali masa lalu itu. Dalam pendekatan ini tampaknya ada tendensi yang kuat bahwa dari bangunan rekonstruksi masa lalu tersebut kita akan memperoleh makna yang asli. Namun dari Gadamer kita diingatkan bahwa ketika kita berhadapan dengan teks, kita tidak mungkin melepaskan diri dari prasangka yang dibentuk dalam konteks, sejarah hidup kita. Oleh karena itu apa yang kita perlukan adalah mengakui ruang bagi partisipasi pembaca dalam memaknai teks ketika ia membaca teks. Dalam proses membaca itu akan terjadi dialog antara pembaca dengan konteks kekiniannya dan teks dengan konteksnya yang khas. Di sini makna tidak tergantung dari teks semata, tetapi makna muncul dari dialog antara teks dan si pembaca. Contohnya ketika saya membaca cerita tentang Tamar dalam kejadian 28. Saya dapat menafsirkannya oleh karena saya sudah mempunyai ide bagaimana teks itu berbicara kepada saya dalam konteks saya. Namun itu tidak berarti saya hanya melihat pikiran saya sendiri. Di sinilah terletak pentingnya kesadaran akan prasangka yang sebelumnya saya telah miliki. Kesadaran tersebut saya dialogkan dengan apa yang dikatakan teks dan mungkin saja kemudian saya menghasilkan lima kemungkinan pemahaman baru dari dialog tersebut. Hal yang penting ditekankan di sini adalah bahwa peranan sudut pandang si penafsir diakui dalam proses penafsiran teks tersebut. Namun menurut saya tetap harus juga diperhatikan agar teks itu juga dapat berbicara secara terbuka dari konteksnya. Dialog tidak akan tercapai bila teks berada pada posisi seperti tahanan dalam penjara dan kita adalah penjaganya. Dalam arti penafsir datang dengan sejumlah pertanyaan yang diajukan sementara teks hanya dapat merespon/menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diungkapkan oleh penafsir. Bila demikian yang terjadi, tidakkah kita mengaburkan makna teks ? Dalam hal ini saya melihat bagaimana seorang penafsir perlu untuk menjadi lebih sensitif.

Paskah : Baru ??

Apa yang baru?

Paskah adalah pembaruan? Apa yang baru? Bukankah setiap tahun mesti sama saja: Minggu-minggu pra-paskah. Minggu sengsara. Malam Getsemani. Jumat Agung = Perjamuan Kudus. Kebaktian subuh. Telur paskah. Drama singkat kubur kosong. Drama paskah. Ya sudah, sama saja bukan? Apa yang baru? Ya memang tidak ada yang baru, kalu kita melihat peristiwa paskah hanya sebagai bagian dari tahun liturgi belaka. Jika paskah hanya dipahami secara ritual-kronologis-liturgis gerejawi, memang tidak ada yang baru dari paskah.

Tetapi apa hanya itu saja cara kita merayakan paskah Kristus? Jangan hanya itu! Paskah lebih kaya ketimbang peringatan. Paskah adalah kuasa. Paskah sunguh-sungguh adalah pembaruan! Dari mana kita tahu? Kisah kebangkitan Kristus sebagaimana dikisahkan oleh penginjil Yohanes (Yoh 20 19-23) memberikan kepada kita makna-makna pembaruan yang terdapat dalam paskah Kristus.


Ketakutan, Keraguan dan Ketertutupan menjadi Kebahagiaan, Kejelasan dan Keterbukaan


Setelah Yesus mati, Murid-murid-Nya ada dalam atmosfir ketakutan, keraguan dan ketertutupan. Memang Maria Magdalena membawa isu yang mengejutkan. “Aku telah melihat Tuhan!” katanya (Yoh 20:18). Tetapi apalah arti perkataan seorang perempuan yang kadang cenderung dipandang sebelah mata pada zaman itu? Tekanan ancaman dari para pemimpin agama Yahudi yang menolak Guru yang kini telah tiada lebih menjadi isu utama bagi mereka. Status mereka kini adalah antek-antek dari gerakan “terlarang”-nya Yesus dari Nazaret. Mungkin mereka lebih memilih bersikap: Ya sudah, yang berlalu biarlah berlalu. Kini hanya “kita” dan “masalah”. Kita harus cari cara menyelamatkan diri. Tuhan sudah lupa pada kita. Cara Mesias Yesus ternyata tidak berdampak..

Atmosfir ini sebenarnya tidak asing bagi mereka. Ini atmosfir lama. Dalam perjalanan sebagai umat Allah banyak kali atmosfir ini mereka alami. Diperbudak di Mesir, dibuang di Babel, di tindas pemerintahan bangsa-bangsa asing yang tidak mengenal Allah, mereka akrab dengan rasa ini. Takut binasa, ragu akan pertolongan Allah, melarikan diri dari tuntunan Allah. Tidak ada yang baru dari atmosfir ini. Atmosfir umat yang meragukan kuasa dan pemeliharaan Allah. Mereka memilih untuk melihat kuasa-kuasa selain kuasa Allah.

Namun atmosfir lama itu tidak berlangsung lama. Ada atmosfir baru! Allah adalah Allah yang setia dengan kasih-Nya. Anak-Nya yang Tunggal dibangkitkan-Nya dari kematian. Ini menjadi tanda yang nyata bahwa apa yang dipikirkan, apa yang dikatakan, apa yang dilakukan Yesus dari Nazaret melalui segenap kehidupan dan karya-Nya itu dibenarkan Allah, serta harus diimani dan diamini! Janji Allah untuk memberikan damai dan sejahtera-Nya bagi umat yang berada dalam tekanan hidup yang berat dan pemberontakan kepada-Nya tidak pernah pupus. Allah setia akan janji-Nya.

Yesus dari Nazaret, Sang Mesias sejati, Anak Allah yang Tunggal, lengkap dengan tangan dan lambung yang terluka, tanda karya-Nya yang agung dalam pembaharuan tatanan kehidupan umat manusia, hadir, hidup dan berkuasa di tengah ketakutan, keraguan, dan ketertutupan murid-murid-Nya. “Damai sejahtera bagi kamu!”, tegas Yesus. Atmosfir baru ini kemudian mendatangkan pengharapan yang kokoh dan mendatangkan sukacita murid-murid (Yoh 20:19). Ternyata kuasa yang sebenarnya bukan terletak pada pemimpin agama Yahudi, bukan pada pemerintahan kolonial Roma, tetapi pada Allah yang setia mengasihi umat-Nya, dengan mengutus Anak-Nya sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan!

Oleh sebab itu dalam atmosfir baru ini: takut binasa karena ancaman pelawan-pelawan Allah (yang waktu itu kentara dalam diri para pemimpin agama Yahudi dan pemerintah Roma); keraguan akan kuasa dan pemeliharaan Allah (meragukan kebangkitan Yesus); serta ketertutupan dalam menyatakan kebenaran Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus (dengan menjadi komunitas yang terutup dan menyembunyikan diri) tidak cocok lagi. Itu hidup yang lama. Kini ada hidup yang baru. Hidup dalam pengharapan yang kokoh kepada Allah. Petrus salah satu saksi iman peristiwa yang berkuasa itu menyatakan pengharapannya dalam suratnya yang pertama: “Marilah kita bersyukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus! Ia sangat mengasihani kita, itu sebabnya Ia memberikan kepada kita hidup yang baru, dengan menghidupkan kembali Yesus Kristus dari kematian. Ini memberikan kita harapan yang kokoh” (1 Petrus 1:3, Terjemahan Alkitab BIS-LAI).

Dalam atmosfir baru yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan kejelasan itu, kini mereka hidup dalam pengharapan yang baru. Harapan baru yang ditegaskan oleh Yesus yang menang: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:21-23). Roh Allah yang Kudus, diberikan-Nya. Kini Murid-murid Yesus memiliki kuasa untuk melayani Bapa dan Kristus sebagai utusan-Nya melebihi kuasa-kuasa yang ada di dunia ini. Atmosfir baru ini harus dibuka kepada sebanyak mungkin orang. Inilah pembaruan yang dihadirkan oleh Paskah Kristus! Kebahagiaan, kejelasan dan keterbukaan: Bahwa sungguh benar Allah terus memberikan damai sejahtera-Nya yang membawa kepada kebahagiaan kepada umat-Nya. Bahwa sungguh benar Allah menyatakan kuasa-Nya di dalam Yesus Kristus yang dibangkitkan-Nya. Bahwa sungguh benar Allah menghendaki damai sejahtera-Nya dirasakan sebanyak mungkin orang melalui murid-murid Yesus.


Lalu bagi kita saat ini?


Kepada jemaat Roma, Rasul Paulus, yang juga salah satu saksi iman dari Yesus yang bangkit itu, menjelaskan: “Dengan baptisan itu, kita dikubur dengan Kristus dan turut mati bersama-sama Dia, supaya sebagaimana Kristus dihidupkan dari kematian oleh kuasa Bapa yang mulia, begitu pun kita dapat menjalani suatu hidup yang baru.” (Roma 6:4, Terjemahan Alkitab BIS-LAI). Ini jelas. Kita yang mengimani Yesus Kristus yang menang, yang dipersekutukan dengan-Nya dalam baptisan, kini hidup dalam kebaruan hidup. Kebaruan yang seperti apa? Yaitu bahwa hidup kita sekarang ini ada dalam pemerintahan Allah dan bukan lagi sebagai seteru Allah. Hidup sebagaimana Yesus Kristus hidup.

Verne H. Fletcher, dalam bukunya “Lihatlah sang manusia!” (terbitan BPK-GM, 2007) memberikan sumbangsih yang berarti dalam upaya kita mengenali bagaimana Yesus hidup. Pengenalan ini dapat menjadi semacam refleksi bagi kita, di dalam mewujudnyatakan kebaruan hidup karena paskah Kristus. Fletcher merefleksikan Yesus sebagai orang yang bebas, rendah hati dan adil. Dengan karakter-Nya itu, Yesus telah memperjuangkan pembaruan tatanan kehidupan manusia pada zaman-Nya, bahkan juga tatanan kehidupan manusia sampai saat ini, melalui kebaruan hidup yang dihidupi para pengikut-Nya. Berikut ini cukilan dari tulisan Fletcher itu.

Sebagai orang yang bebas, Yesus dari Nazaret hidup:

a. Bebas dari keterikatan pada harta milik

Bukan berarti Yesus menjadi pertapa, melainkan Yesus tidak bernafsu untuk mendapatkannya. Nafsu kepada harta milik dapat menjadikan seseorang melupakan Allah. Yesus tidak membenci orang kaya. Yesus memuji orang yang kaya di hadapan Allah, yang tidak serakah dan tulus berbagi kepada yang melarat dan tidak punya. Yesus menyayangkan orang-orang yang menggantikan Allah dengan harta milik, apalagi yang menindas orang lain demi dan untuk harta milik. Bagaimanakah sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita tentang harta milik kita?

b. Bebas dari ketergantungan pada status dan gengsi

Yesus tidak gila pujian. Yesus tidak menilai orang lain tegantung status sosial. Ia bergaul dengan orang miskin dan juga pembesar-pembesar. Bergaul dengan kalangan atas Ia tidak minder. Bergaul dengan kalangan bawah Ia tidak tinggi hati. Terhadap orang-orang yang menjalankan ibadah agama supaya dilihat atau dipuji orang Yesus tidak suka. Yesus menghargai anak-anak dan menyambut mereka. Bagaimanakah sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam cara kita bergaul dengan Allah dan sesama?

c. Bebas dari ketundukan pada “moralitas tertutup”

“Moralitas tertutup” menujuk kepada tata moral yang bermaksud memisahkan salah satu kelompok, aliran, atau bangsa dari dunia luar. Tata moral ini membatasi pihak yang satu dan menjauhkan pihak yang lain. Yesus memberitakan Allah yang bermurah hati dan yang mengampuni orang yang berdosa, yang menaruh perhatian pada orang kecil dan tersesat, yang menurunkan hujan kepada orang yang benar dan tidak benar. Yesus membenci kepicikan para pemimpin agama Yahudi pada zaman-Nya. Sebaliknya Yesus memanggil seluruh bangsa ke dalam persekutuan dengan Allah. Yesus memilih murid-murid-Nya dengan beragam latar belakang ideologi dan lapisan sosial. Yesus membangun “jembatan penghubung” dan bukan “tembok pemisah”. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam tata moralitas hidup kita?

d. Bebas demi sesama manusia

Kebebasan Yesus dari keterikatan pada harta milik, dari ketergantungan kepada status dan gengsi, dari ketundukan kepada moralitas tertutup, dijalankan agar Ia bebas untuk melayani sesama-Nya. Kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi orang lain. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam menjalankan kebebasan-kebebasan, hak-hak yang kita miliki?

Sebagai orang yang rendah hati, Yesus dari Nazaret hidup:

a. Lemah lembut

Kerendahan hati, kelemahlembutan Yesus adalah kerendahan hati di hadapan Allah. Kelemahlembutan-Nya bukan menandakan kelemahan, atau tindakan cari aman, melainkan ketegasan keberpihakan-Nya kepada yang lemah. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam bersikap kepada yang lemah?

b. Akrab pada kaum rendahan

Yesus mendahulukan kaum miskin dan terlantar. Yesus memihak kepada rakyat jelata. Yesus berdiri bersama dengan kaum melarat, mengajar dan menyembuhkan mereka. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam bergaul dengan orang yang miskin dan rakyat jelata?

c. Bersama dengan orang berdosa

Yesus bergaul dengan orang yang buruk dan cemar, orang sakit kusta, orang yang kerasukan setan, para pemungut cukai, wanita sundal. Yesus sahabat orang berdosa. Pengampunan dan persahabatan Allah Yesus nyatakan kepada orang yang mau bertobat. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam penilaian kita terhadap orang yang besalah dan berdosa kepada kita?

d. Sebagai hamba Allah yang melayani sesama-Nya

Yesus memilih menjadi pelayan yang menderita agar orang lain menikmati kebaikan dan kebaruan hidup. Yesus menjadi pelayan bagi mereka yang terbuang, yang bahkan membenci dan menolak-Nya. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam melaksanakan pelayanan kita?

e. Memperjuangkan mentalitas baru

Yesus tidak membiarkan orang menjadi “kolokkan” dengan penyembuhan-penyembuhan-Nya. Yesus mendorong orang itu menghidupi imannya, dan bertumbuh dalam imannya. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam permohonan-permohonan kita kepada Allah dan upaya pertumbuhan iman kita?

Sebagai orang yang adil, Yesus dari Nazaret hidup:

a. Tidak apolitis

Yesus tidak berpolitik tetapi tidak apolitis. Yesus peduli akan struktur kemasyarakatan-Nya. Yesus mengadakan perubahan struktur sosial zaman-Nya, dengan cara Allah, Bapa-Nya. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam sumbangsih perubahan tatanan politik yang mendatangkan kebaikan bagi banyak orang?

b. Menolak mesianisme politik

Yesus menghindar manakala dirinya diajukan sebagai pemimpin politik. Bagi-Nya pemerintahan Allah, perubahan yang Allah lakukan, bukan dinyatakan dengan cara politik manusia yang kotor. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam melihat hubungan gereja dan politik?

Selanjutnya, Fletcher menggali apa-apa saja yang sudah diperjuangkan Yesus dari Nazaret sampai titik darah penghabisan demi menyatakan pembaruan kehidupan dalam pemerintahan Allah:

a. Yesus mematahkan lingkaran setan yang terdiri atas kekerasan dan pembalasan

Yesus mematahkan lingkaran kekerasan dan pembalasan dengan menolak menjadi musuh bagi siapapun juga. Ketimbang pembalasan Yesus memilih memberikan pengampunan. Yesus membalas kejahatan dengan kebaikan. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita pada saat kita mengalami kekerasan?

b. Yesus menolak pola penguasaan ketundukan sebagai patokan bagi hubungan antar manusia

Bagi Yesus pemimpin adalah orang yang melayani, dan bukan yang menguasai. Perempuan yang waktu itu hidup dalam ketertundukkan pada lelaki, di mata Yesus berbeda. Banyak kali Yesus menyatakan penghargaan-Nya kepada perempuan yang ada di sekitar kehidupan-Nya. Bahkan, para perempuanlah yang menjadi saksi dari kebangkitan-Nya. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam pola hubungan atasan-bawahan dan masalah gender?

c. Yesus mempersoalkan kesetiakawanan yang kelewat sempit dan eksklusif

Yesus menyatakan kesetiakawanan yang terbuka. Sesama manusia bukanlah sama-sama suku dan sama-sama kepentingan belaka. Yesus membuka diri sebagai perwujudan rahmat Allah yang terbuka kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam solidaritas kita akan “yang berbeda” dari kita, beda agama, beda suku dan sebagainya?

d. Yesus mengesampingkan kekuasaan, kejayaan dan gengsi sebagai pertanda pemerintahan Allah

Keakraban Yesus pada golongan yang lemah, miskin, tersisih, menderita, teraniaya menjadi tanda kehadiran Allah yang berkuasa dan memerintah. Ini prioritas pelayanan Yesus. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam melihat penderitaan kita dan juga dalam mengatur prioritas-prioritas hidup kita?

e. Yesus menisbikan segala kemutlakan buatan manusia, serta bergumul melawan kuasa kejahatan

Bagi Yesus sandaran yang kokoh bukanlah apa yang dibuat manusia, entahkah itu bangunan, harta milik, tradisi, status, jabatan, gelar, pemerintahan, pekerjaan, melainkan apa yang asalnya dari Allah Bapa-Nya. Terhadap segala pencobaan yang dihadapi-Nya, semenjak awal pelayanan-Nya di padang gurun, di Getsemani, sampai bukit Golgota, Yesus taat menolak kuasa si jahat dan memilih berpihak dan mentaati Allah, Bapa-Nya. Bagaimana sikap Yesus ini memberikan pembaruan bagi kita dalam pilihan-pilihan hidup kita yang mendatangkan pencobaan untuk melakukan yang jahat? Kristus hidup! Pandanglah hidup Yesus Kristus! Mari hadirkan pembaruan hidup!

Renungan Natal

Seorang bapak setengah baya bekerja pada sebuah perusahaan kereta api, dan tugas bapak ini mudah saja. Beliau hanya bertugas menarik sebuah tuas yang mengerakkan roda roda raksasa yang saling berhubungan untuk mengangkat jembatan yang merintangi jalan kereta api, sehingga kereta api tersebut dapat lewat dengan selamat. (artinya: jika jembatan tersebut tidak diangkat, maka kereta api itu akan mengalami kecelakaan yang sangat hebat). Bapak ini mempunyai seorang anak satu satunya yang sangat dikasihi dengan segenap jiwanya. Pada suatu hari, anak bapak ini mengunjungi bapaknya dan bapaknya membiarkan anaknya itu melihat lihat tempat kerjanya. Sewaktu anak ini menghampiri roda roda raksasa tersebut, tiba tiba sang anak terpeleset dan jatuh diantara roda roda raksasa tersebut, malang baginya, kaki anak kecil tersebut terjepit dengan eratnya diantara gerigi roda roda raksasa tersebut.

Demi melihat kaki anaknya terjepit diantara roda roda raksasa tersebut, sang bapak dengan serta merta berusaha menolong melepaskan kaki anak tersayangnya itu dari jepitan gerigi roda2 tersebut namun setelah berusaha sekian lama, sang bapak ini masih belum bisa melepaskan kaki anaknya tersebut hingga sang anak mulai menangis karena ketakutan.

Tiba tiba dari kejauhan terdengarlah secara samar samar suara peluit kereta api memberi tanda agar jembatan itu harus segera diangkat. Hati bapak ini menjadi sangat sedih dan ketakutan, namun dalam kecemasannya itu dia masih tetap berusaha melepaskan kaki anaknya, tapi tetap tidak ada hasilnya.

Tidak lama kemudian suara peluit kereta api tersebut terdengar lagi semakin jelas dan semakin dekat. Hati bapak ini seketika menjadi hancur. Dia mulai menangis dengan sedihnya. Didalam hati bapak ini muncul suatu keraguan; haruskah dia mengorbankan anak satu satunya demi menyelamatkan kereta api itu - yang penumpangnya tak ada satupun yang dia kenal? Namun jika dia memilih untuk menyelamatkan anaknya, maka berapa jiwa yang akan melayang dengan sia sia hanya gara gara satu orang saja....????

Pada saat hati Bapak itu tidak menentu, secara perlahan lahan dan dengan tangan gemetar dia mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan hati yang sangat hancur, lalu bapak ini mulai berdiri dan menuju ke tuas pengangkat jembatan tersebut. Dengan air matanya yang membasahi sampai kebajunya, sang bapak ini melihat sekali lagi pada anak satu satunya itu, lantas ia menarik tuas gerbang kereta itu dan seketika itu ia jatuh lemas dan menangis sejadi-jadinya tanpa berani melihat proses kematian anaknya yang sangat tragis dan tidak pernah dibayangkan olehnya demi menyelamatkan orang orang yang ada didalam kereta api itu yang sama sekali tidak mengetahui, bahwa saat itu juga mereka telah bebas dari kematian yang kekal.

Saudaraku yang terkasih...jika kita renungkan kembali kisah diatas... bukankah cerita diatas telah terjadi 2000 tahun yang lalu... dimana Yesus telah disalib hanya untuk menebus dosa kita...? siapakah kita ini sehingga kita memperoleh keselamatan itu...?
tetapi kasih Yesus begitu besar...sehingga Dia rela mati diatas kayu salib hanya untuk menebus dosa kita... (injil Yohanes 3:16)

saya mau katakan pada saudara...bahwa hanya Yesus sajalah yang rela mengorbankan nyawanya bagi kita. Tak ada kasih yang demikian besar seperti yang dilakukan Yesus demi menyelamatkan kita. kematian Yesus itu tidak dapat dinilai dengan apapun yang ada didunia ini...terlalu mahal dan sangat mahal untuk sebuah jiwa seperti saya dan saudara...tapi, saya juga mau katakan sesuatu pada saudara... kematian Yesus 2000 tahun yang lalu bukan hanya untuk menebus dosa orang yang hidup pada jaman itu saja...tetapi darah-Nya yang tercurah 2000 tahun yang lalu masih mampu dan Dia sanggup menyelamatkan kita.

Percayalah kepada Yesus...sebab hanya melalui Dialah kita dapat diselamatkan. dan bagi kita yang sudah percaya pada Yesus... janganlah kita menjual kematian Yesus dengan hal hal yang bersifat duniawi... terlalu mahal harga sebuah nyawa itu, sobat...

Teman temanku yang terkasih didalam Yesus Kristus... kami tidak mau teman teman hanya membaca kisah di atas ini lalu di delete tanpa di forward kepada teman teman kalian yang lain... sediakanlah waktu bagi Tuhan untuk bersaksi tentang pengorbananNya ini kepada teman temanmu yang belum mengenal Yesus secara pribadi.

jika Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini selalu menyediakan waktu-Nya untuk mengawasi teman teman sekalian, kenapa teman teman tidak membalas kebaikan-Nya dengan mengirimkan email ini kepada orang orang yang masih menanti uluran tangan kita? sekaranglah waktunya...jangan ditunda lagi...sebab hari esok kan terlambat...! selamat bersaksi dan menerima keselamatan yang dari Allah...haleluya...

Tuhan memberkati...
Kasih dan damai dalam kasih Kristus,

JESUS LOVE YOU.

TUHAN MAU LAHIR DIMANA?

TUHAN...KAU mau lahir dimana...?

di sini sudah tidak ada tempat lagi...

Jalanan macet, banjir dimana-mana....

Banyak gunung ingin meletus...hujan badai...angin ribut...

TUHAN...KAU mau lahir dimana...?